­

Api di Bukit Menoreh Seri ke-71

Karya S.H. Mintardja

PANDAN WANGI yang juga mendengar rencana Rudita itu menjadi gelisah. Tetapi ia berterima kasih di dalam hati, bahwa anak-anak muda yang lain seakan-akan tidak berkeberatan atas keputusan yang telah diambil oleh Rudita itu, sehingga dengan demikian tidak timbul persoalan yang tegang di antara mereka.

Dalam pada itu Prastawa pun bertanya pula kepada Pandan Wangi karena Pandan Wangi belum sempat menjawab, “Jadi kemana kita, Pandan Wangi?”

“Jangan bertanya lagi,” bentak Rudita, “aku sudah menjawab.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun berkata, “Rudita. Aku ingin pergi ke hutan yang liar itu. Bukankah kita kemarin malam sudah membicarakannya.”

“Aku tidak sependapat. Kita berburu di hutan perburuan.”

“Memang ada dua macam daerah perburuan. Mereka yang berjiwa jantan akan memilih hutan yang liar itu, tetapi bagi yang berjiwa betina akan memilih hutan perburuan itu. Anehnya bahwa aku memilih hutan yang liar itu, bukan karena aku seorang gadis yang berjiwa jantan, tetapi hutan itu menyimpan binatang jauh lebih banyak dari hutan perburuan.”

“Tidak Aku tidak mau pergi ke hutan yang liar itu, yang dikatakan masih dihuni oleh berbagai jenis harimau, ular, dan serangga-serangga berbisa.”

“Sayang, bahwa kami akan pergi ke hutan itu. Ayah sudah membekali aku dengan obat pemunah racun. Dengan demikian berarti bahwa aku diperkenankannya memasuki hutan liar itu.”

“Aku juga,” tiba-tiba saja Swandaru menyahut, “Guru telah memberikan sejenis obat pemunah racun. Jika salah seorang dari kita kena racun, maka obat itu dapat ditaburkan di luka yang terkena racun itu. Namun ada pula sejenis obat yang dapat kita minum.”

Rudita memandang Swandaru sejenak. Anak yang gemuk itu semakin lama semakin menjemukan baginya. Karena itu maka jawabnya, “Jika kau sudah membawa obat itu dan akan pergi berburu ke hutan liar itu, pergilah. Ajaklah siapa saja yang ingin pergi. Tetapi rombongan ini akan berhenti di hutan perburuan itu. Keputusan ini tidak dapat diganggu gugat.”

Swandaru yang gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan seperti acuh tidak acuh saja ia berkata, “Baiklah. Jika demikian, siapakah yang akan ikut aku pergi berburu ke hutan liar itu? Menurut Rudita, rombongan kecil ini akan berhenti di hutan perburuan, sedang yang ingin ikut bersama aku, diberinya kesempatan.”

Sejenak mereka saling berpandangan. Tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis, “Aku pergi bersama Swandaru.”

“Itu urusanmu. Memang sebaiknya kalian berdua tidak pergi bersama kami.”

Tetapi tiba-tiba Prastawa pun berkata, “Aku pergi bersama Swandaru. Hutan perburuan tidak memberi kepuasan lagi bagi kita yang sudah terlalu sering berburu di dalamnya. Karena itu, mumpung kita berada di dalam suatu rombongan yang kuat, kita pergi berburu di hutan liar.”

Belum lagi Prastawa selesai berbicara, maka Pandan Wangi telah berkata pula, “Aku pun ikut bersama mereka yang pergi ke hutan liar itu.”

Keringat dingin membasahi tubuh Rudita seperti disiram dengan air. Wajahnya menjadi tegang dan dadanya bagaikan bergetar. Dipandanginya Pandan Wangi dan Prastawa berganti-ganti. Dengan suara yang bergetar ia bertanya, “Jadi kalian tidak lagi menuruti keputusan yang aku ambil?”

Pandan Wangi menahan kudanya sehingga Rudita berada di sisinya. “Bukan begitu Rudita,” katanya, “tetapi kadang-kadang kita ingin sesuatu yang lain dari kebiasaan kita. Dengan demikian kita akan mendapatkan kesegaran baru di dalam perburuan ini. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Jika setiap kali kita berburu di hutan perburuan, baik yang ada di tepi Kali Praga mau pun yang berada di daerah Selatan dari Tanah Perdikan ini, mau pun yang di ujung Utara di lereng pegunungan itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa lagi selain jenis binatang yang selalu kita buru. Tetapi di hutan yang liar itu kita akan bertemu dengan jenis-jenis binatang yang lain. Kita tidak saja berburu kijang atau menjangan, tetapi kita akan bertemu dengan seekor harimau. Mungkin seekor kijang dari jenis yang lain, yang berbintik-bintik di punggungnya, atau seekor menjangan yang berleher agak panjang. Tetapi mungkin juga kita bertemu dengan binatang-binatang yang berbahaya yang dapat menambah pengalaman hidup kita. Anjing liar, babi hutan, atau sejenis ular pohon berwarna coklat.”

Terasa bulu-bulu tengkuk Rudita meremang.

“Nah, bagaimana dengan kau?” bertanya Prastawa. “Ternyata kami semuanya ikut dengan Swandaru ke hutan liar itu. Apakah kau akan memasuki hutan perburuan itu sendiri?”

Rudita tidak segera menjawab. Tampaklah matanya menjadi redup dan bahkan basah.

“Jika kau tidak berkeberatan,” berkata Pandan Wangi kemudian, “ikutlah dengan kami.”

Rudita memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu maka dengan suara parau ia berkata, “Kalian telah berbuat kesalahan karena kalian tidak menurut aku. Tetapi apa boleh buat, jika aku memang harus pergi bersama kalian. Tetapi jangan merasa bahwa kalian dapat merubah keputusanku. Keputusanku tetap seperti yang aku katakan. Meskipun kita berburu di hutan liar, tetapi hasil yang kita peroleh akan aku berikan sebagai hadiah buat Pandan Wangi.”

“Terima kasih,” sahut Pandan Wangi, “aku akan berusaha membantumu.”

“He,” Rudita membelalakkan matanya.

Sambil tersenyum Pandan Wangi berkata, “Sudahlah. Keputusan kita sudah pasti, kita pergi ke hutan liar itu.”

Rudita memandang Pandan Wangi dengan heran, namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti sifat dan sikap orang-orang yang pergi bersamanya berburu. Seakan-akan mereka tidak dapat ditertibkan. Mereka seakan-akan berbicara menurut kehendak dan keinginan mereka masing-masing, bahkan kadang-kadang dengan tajam memotong keputusannya.

“Kenapa aku tidak membawa pengawal dari rumahku,” berkata Rudita di dalam hati. “Orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh bukannya orang yang baik seperti orang-orangku di rumah. Mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan. Mereka tidak selalu membantah dan bahkan kadang-kadang menentukan sikap menurut kehendak sendiri.”

Tetapi Rudita yang sudah berada di antara orang-orang yang menurut pendapatnya bersikap aneh itu, tidak dapat berbuat lain. Bahkan menurut pendapatnya, Pandan Wangi sendiri pun ternyata bersikap aneh. Ia sama sekali tidak bersikap sebagai seorang gadis, karena ia sama sekali tidak melonjak kegirangan dan berterima kasih ketika ia berkata bahwa ia akan, memberikan hadiah dari hasil perburuan itu.

“Gila sekali,” katanya di dalam hati, “ia justru berkata bahwa ia akan berusaha membantu.”

Tetapi Rudita tidak berkata lebih banyak lagi. Iring-iringan itu sudah berbelok di sebelah hutan perdu. Sebentar lagi mereka akan melintas di sebelah hutan perburuan dan langsung pergi ke hutan yang masih liar dan pepat.

Namun sebenarnya yang disebut hutan yang masih liar itu tidak seliar Alas Mentaok. Isinya pun tidak seberbahaya Alas Mentaok, karena selain binatang buas Alas Mentaok juga menyimpan jenis-jenis serangga yang beracun, bahkan jenis semut pemakan daging. Di samping bahaya-bahaya yang terdapat di hutan-hutan yang liar itu, Mentaok juga menyimpan bahaya yang khusus, yaitu perampok dan yang terakhir orang-orang yang berusaha untuk memisahkan Mataram dari dunia peradaban yang lain. Dan bagi Agung Sedayu dan Swandaru yang sudah beberapa kali menyeberangi Alas Mentaok itu, bahaya-bahaya serupa itu sudah terlalu sering dihadapinya.

Meskipun demikian, mereka tidak boleh lengah. Meskipun mereka sudah beberapa kali berhasil dengan selamat melintas hutan yang lebih dahsyat dari hutan yang dihadapi itu, namun memang mungkin sekali di hutan yang tidak selebat Mentaok itu, mereka akan bertemu dengan bahaya yang sebenarnya.

Demikianlah, sejenak kemudian mereka telah sampai di daerah hutan perburuan. Hutan yang tampaknya menjadi bersih dan terpelihara. Namun di dalam hutan perburuan itu memang masih juga terdapat beberapa jenis binatang. Bahkan satu dua masih ada juga harimau yang berkeliaran. Tetapi binatang buas itu lebih senang hidup di hutan yang masih liar, karena di hutan itu yang diburu pun masih cukup banyak.

Rudita yang masih saja berada di belakang Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Sedang di hutan perburuan pun ia kadang-kadang menjadi cemas dan ketakutan. Apalagi apabila mereka harus memasuki hutan yang liar itu.

Berbeda dengan Rudita, tampak wajah Pandan Wangi menjadi cerah, seperti juga Prastawa. Kesempatan semacam itu jarang sekali mereka dapatkan. Jika mereka tidak bersama Agung Sedayu dan Swandaru, maka mungkin mereka tidak akan diperkenankan oleh Ki Gede Menoreh. Namun karena Ki Gede percaya, kepada kedua anak-anak muda itu, maka bersama Pandan Wangi dan Prastawa, mereka dianggap cukup memiliki kemampuan untuk menghadapi liarnya hutan itu, karena Ki Gede pun mengetahui dengan pasti, bahwa Agung Sedayu dan Swandaru sering kali melewati daerah Alas Mentaok yang buas.

Daerah hutan perburuan dan hutan yang liar itu dipisahkan oleh sebuah lapangan rumput dan perdu yang tidak begitu luas. Karena itu, memang kadang-kadang binatang dari kedua daerah itu saling menyeberang. Namun hutan perburuan yang bersih memang bukan merupakan lapangan hidup yang menarik bagi berbagai jenis binatang.

“Itulah hutan itu,” Pandan Wangi hampir berteriak ketika mereka berada di sebelah hutan perburuan.

Agung Sedayu dan Swandaru memandang hutan itu dengan saksama. Pepohonan yang liar berserakan di sela-sela gerumbul-gerumbul yang cepat. Sulur-sulur kayu dan dedaunan merambat tumbuh berbelitan di antara pepohonan yang roboh melintang, bersandar pada pohon-pohon raksasa.

Dada Rudita bergetar melihat liarnya hutan itu. Sama sekali tidak ada lorong yang licin dan bersih melintas masuk ke dalamnya, selain sebuah lubang yang mirip dengan goa yang gelap. Kadang-kadang memang ada satu dua orang memasuki hutan itu untuk mencari kayu bakar dan barangkali lebah tawon gula. Tetapi mereka hanya memasuki hutan itu beberapa langkah saja dan tidak berani menusuk langsung ke jantung hutan itu.

Itulah bedanya dengan Alas Mentaok. Betapa lebatnya Alas Mentaok, namun di dalamnya terdapat semacam jalur yang meskipun jarang sekali dilalui orang, namun di jalur itu seakan-akan hutan menjadi agak mudah dikuasai. Tetapi di hutan yang liar ini sama sekali tidak ada jalur jalan.

“Apakah kita dapat masuk sambil membawa kuda-kuda kita?” bertanya Prastawa.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Di lebatnya Alas Mentaok, mereka masih dapat melintas dengan mengendarai seekor kuda. Tetapi di hutan itu, kuda hanya akan menambah kesulitan saja.

“Kita tinggalkan kuda kita di luar,” berkata Swandaru.

“Jadi bagaimana dengan kita?” bertanya Rudita.

Swandaru memandang anak muda yang menjadi cemas itu. Kemudian dipandanginya Pandan Wangi yang diharapkannya memberikan jawaban, agar tidak menumbuhkan salah paham.

“Tentu kita akan meninggalkan kuda dan perlengkapan kita di luar. Kita pun akan berkemah di luar. Setiap kali kita memasuki hutan ini dengan busur dan anak panah. Nyanggong di pepohonan atau mengikuti jejak binatang buruan. Jika kita lelah, kita akan kembali ke luar dan beristirahat. Memang lebih baik kita berkemah di tengah-tengah. Tetapi terlalu sulit untuk masuk ke dalamnya sambil membawa kuda dan perbekalan.”

“Aku tidak mengerti. Jadi apakah kita tidak berburu sekarang dan kemudian kembali?” bertanya Rudita.

“Kita akan berada di sini tiga hari tiga malam.”

“Tiga hari tiga malam?” wajah Rudita menjadi tegang. “Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Aku harus kembali kepada ayah dan ibu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menyahut.

“Aku tidak pernah bepergian sampai sekian lamanya,” Rudita melanjutkan.

“Rudita,” berkata Pandan Wangi, “kita sebenarnya tidak berada di tempat yang jauh. Kita masih tetap berada di atas Tanah Perdikan Menoreh. Sebagaimana kau lihat, sebelum tengah hari kita sudah sampai di sini. Jika kita ingin kembali di dalam sekejap saja seakan-akan kita sudah berada di rumah. Seandainya dalam waktu tiga hari ini kau tidak kerasan tinggal di hutan, kau dapat pulang balik setiap saat kau kehendaki.”

Rudita mengerutkan keningnya, lalu, “Kalian tidak mengatakan bahwa kalian akan tinggal di sini tiga hari tiga malam.”

“Kami memang tidak merencanakan berapa lama kami akan tinggal di sini. Jika besok kami sudah ingin pulang, kami akan pulang. Jika kau ingin mendahului, kami persilahkan kau mendahului dan jika kau masih akan kembali lagi ke mari, kembalilah ke mari. Kenapa kita harus memikirkannya dengan kening yang berkerut-merut. Mungkin besok justru ayah datang pula ke tempat ini. Ayah dahulu juga sering berburu. Tetapi sejak kakinya menjadi agak cacat, ia seakan-akan menghentikan kegemarannya itu.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Penjelasan Pandan Wangi itu agak menenteramkan kegelisahannya. Sebenarnyalah tempat ini tidak begitu jauh dari padukuhan yang berserakan di Tanah Perdikan Menoreh.

“Sekarang,” berkata Pandan Wangi kemudian, “kita akan beristirahat dahulu sambil mencari tempat yang paling baik untuk berkemah. Tempat yang paling aman dari gangguan binatang berbisa.”

Demikianlah, mereka pun segera meloncat turun dari kuda masing-masing. Para pengiring dan orang-orang yang membawa perlengkapan rombongan kecil itu pun segera mempersiapkan tempat yang kemudian mereka pilih untuk meletakkan semua perbekalan dan alat-alat berburu mereka.

“Kita beristirahat di sini,” berkata Pandan Wangi sambil mengikat kudanya pada sebatang pohon.

Yang lain pun mengikat kuda masing-masing pula. Sambil bertolak pinggang Prastawa memandang hutan yang terbentang di hadapannya. Hutan yang lebat dan liar. Namun tampak kegembiraan membayang di wajahnya. Seperti Pandan Wangi, ia pun sebenarnya sudah jemu berburu di hutan perburuan yang tidak begitu banyak lagi menyimpan binatang buruan.

“Tetapi belum pasti, bahwa di hutan ini kau akan mendapatkan seekor binatang pun,” Agung Sedayu tiba-tiba berdesis.

Prastawa berpaling. Sambil tersenyum ia berkata, “Ya. Memang mungkin. Tentu lebih sulit berburu di daerah yang lebat ini.

“Tidak selebat yang kita duga,” sahut Apung Sedayu. “Jika kita sudah berada di dalam, maka kita akan mendapatkan jalan untuk mengejar binatang buruan. Alas Mentaok yang lebat itu pun dapat disusupi. Bukan lewat jalur jalan yang sudah ada. Tetapi lewat di antara pepohonan yang padat. Bahkan di Alas Mentaok, ada sekelompok orang yang sempat bermain hantu-hantuan.”

Prastawa mengerutkan keningnya, “Hantu-hantuan?”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Ya. Tetapi baiklah kita melupakannya. Meskipun demikian kita harus selalu ingat pesan Ki Gede, bahwa di daerah yang berdekatan dengan Kali Praga, kita tidak hanya harus berhati-hati terhadap binatang buas dan serangga-serangga berbisa, tetapi juga terhadap orang-orang yang tidak kita kenal.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kadang-kadang para peronda memang menjumpai