­

Api di Bukit Menoreh Seri ke-210

Karya S.H. Mintardja

KI DEMANG mengerutkan keningnya, sementara Ki Jagabaya dan anak Ki Demang itu termangu-mangu. Dengan nada datar Ki Demang itupun bertanya, “Anak muda, menurut pengertianku, Rangga adalah satu kedudukan atau pangkat. Apakah pengertianku itu benar?“
“Tidak Ki Demang.“ Glagah Putihlah yang menyahut. “Yang disebut adalah sebuah nama. Namanya memang Rangga. Utuhnya Raden Rangga, putera Panembahan Senopati di Mataram.“
“Putera Panembahan Senopati?“ Ki Demang terkejut. Ia berusaha untuk bangkit.
Tetapi Raden Rangga menahannya sambil berkata, “Sudahlah Ki Demang. Berbaring sajalah. Siapapun aku, sebaiknya Ki Demang jangan memaksa diri untuk bangkit dan duduk. Ki Demang masih terlalu lemah.“
“Ampun Raden.“ berkata Ki Demang justru dengan nafas terengah-engah, “kami sama sekali tidak tahu, bahwa tamu kami sekarang ini adalah putera Panembahan Senopati dr Mataram.“
“Sudahlah.“ berkata Raden Rangga, “sudah aku katakan siapapun aku, Ki Demang jangan menghiraukan. Yang penting, seperti sudah aku katakan, Ki Demang ja¬ngan mengatakan kepada orang lain. Kami sedang mengemban satu tugas. Jika banyak orang yang mengenal kami maka hal itu akan dapat mengganggu tugas kami.“
“Tentu Raden.“ berkata Ki Demang, “kami tidak akan mengatakan kepada siapapun. Ki Jagabayapun tidak akan mengatakan kepada orang lain. Demikian pula anakku itu.“
“Nah Ki Demang.“ berkata Raden Rangga, “Yang penting Ki Demang memulihkan kekuatan Ki Demang setelah obat itu menghentikan dan menawarkan racun yang ada didalam tubuh Ki Demang. Dengan demikian maka Ki Demang akan dapat kembali memegang pimpinan pemerintahan. Terserah kepada Ki Demang, keputusan apakah yang akan Ki Demang jatuhkan kepada adik Ki Demang yang telah berkhianat itu.“
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya Raden.“ berkata Ki Demang, “tetapi bagaimana jika aku menyerahkan persoalan adikku itu kepada Raden. Aku kira lebih baik orang lain mengambil keputusan daripada aku sendiri.“
Raden Rangga menggeleng. Katanya, “Aku tidak mempunyai wewenang untuk itu. Jika aku melakukannya dan ayahanda Panembahan Senopati mengetahuinya, maka aku akan mendapat hukuman pula.“
“O.“ Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, “jadi, apakah aku harus mengadili adikku sendiri?“
“Ya. Itu adalah kewajiban Ki Demang.“ berkata Raden Rangga, “adalah kebetulan saja bahwa yang melakukan kesalahan itu adalah adik Ki Demang sendiri.“
“Baiklah Raden.“ berkata Ki Demang, “seandainya Yang Maha Agung memperkenankan aku sembuh kembali, aku akan mengadilinya. Tetapi sudah tentu aku mohon Raden menjadi saksi.“
Raden Rangga tersenyum. Katanya, “aku minta maaf Ki Demang, bahwa aku tidak akan dapat tinggal terlalu lama di Kademangan ini.“
“Kami akan memohon Raden tinggal disini bersama anak muda yang seorang itu.“ berkata Ki Demang.
“Anak muda ini adalah Glagah Putih Ki Demang. la adalah adik sepupu Agung Sedayu dari Jati Anom, namun yang sekarang berada di Tanah Perdikan Menoreh.“ jawab Raden Rangga, “la akan pergi bersamaku, melakukan tugas yang berat.“
“Jati Anom.“ desis Ki Demang, “tempat itu tidak terlalu jauh. Aku pernah pergi ke Jati Anom.“
“Ya. Kami berdua akan mengemban satu tugas, sehingga dengan demikian, maka kami berdua tidak akan dapat terlalu lama tinggal di Kademangan ini. Mungkin kami dapat tinggal sehari. Akupun ingin melihat akibat dari obat yang telah Ki Demang minum. Tetapi tidak lebih dari itu.“ berkata Raden Rangga.
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kami mohon Raden dapat berada ditempat ini tidak hanya untuk sehari.“
Raden Rangga tersenyum. Katanya, “ Sudahlah. Sebaiknya Ki Demang beristirahat. Untuk selanjutnya Ki
Demang dapat minum obat untuk menyembuhkan sakit Ki Demang dan memulihkan kesehatan. Ki Demang. Yang penting racun itu sudah tidak bekerja lagi didalam tubuh Ki Demang.“
Ki Demang mengangguk. Namun terdengar ia berdesis, “Raden telah melakukan satu langkah yang sangat penting artinya bagi keluarga kami dan Kademangan kami, Karena itu, maka kami mohon, jika tugas Raden sudah selesai, hendaknya Raden dan angger Glagah Putih sudi singgah lagi di Kademangan ini.“
Raden Rangga mengangguk. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi muram. Hanya sekilas. Iapun kemudian berusaha untuk dengan segera menekan perasaannya. Raden Rangga telah memaksakan sebuah senyum bergerak dibibirnya.
“Tentu Ki Demang.“ berkata Raden Rangga, “Aku akan singgah kelak jika tugasku sudah selesai.“
“Terima kasih Raden. Semoga tugas Raden cepat Raden selesaikan berdua.“
Raden Rangga kemudian menepuk lengan Ki Demang sambil berkata, “Sudahlah Ki Demang. Beristirahatlah. Aku akan berada di pendapa. Malam besok aku masih akan bermalam di Kademangan ini. Karena itu, maka besok sehari aku akan berada disini.“
Ki Demang mengangguk kecil. Katanya, “Silahkan Raden juga berisirahat, “Lalu Ki Demangpun berkata kepada Ki Jagabaya. “Sebelum aku dapat berbuat banyak, terserah kepadamu Ki Jagabaya. Tetapi jaga agar adikku itu tidak dapat melepaskan diri dengan alasan apapun.“
“Baik Ki Demang. Aku akan menjaganya bersama para bebahu dan anak-anak muda Kademangan ini.“ jawab Ki Jagabaya.
“Ki Jagabaya.“ berkata Ki Demang pula, “persilahkan tamu-tamu kita ini beristirahat.“
“Aku akan membersihkan gandok ayah.“ berkata anak Ki Demang.
Sebelum Ki Demang menjawab, maka anak Ki Demang itu sudah berlari ke gandok. Tetapi ternyata ia tidak melakukan sendiri. Ia hanya berteriak-teriak saja memanggil pembantu Kademangan itu yang terkejut karenanya. Sam¬bil mengusap matanya ia keluar dari biliknya dan pergi ke gandok sambil bergeremang.
“Anak itu terlalu manja.“
Demikian ia sampai ke gandok, maka anak Ki Demang itupun telah meneriakkan perintah-perintah.
“He, jangan tidur saja.“ berkata anak Ki Demang itu lantang, “kau tahu kalau ada tamu he? Semua orang se Ka¬demangan datang kemari, kau tidur saja mendekur.“
“Siapa yang datang kemari?“ bertanya pembantunya itu.
“Lihat itu dihalaman.“ berkata anak Ki Demang.
Pembantunya sama sekali tidak berniat untuk melihat ke halaman. Semen tara itu, anak Ki Demangpun telah memerintahkan membersihkan bilik gandok itu.
Dalam pada itu, maka Ki Jagabayapun telah mempersilahkan kedua anak muda itu untuk sementara duduk dipendapa karena bilik bagi mereka digandok baru dibersihkan.
“Rumah Ki Demang cukup besar.“ berkata Ki Jagabaya, “sedangkan keluarganya tidak terlalu banyak sehingga ada bilik-bilik yang kosong. Namun agaknya bilik-bilik yang kosong itupun jarang dibersihkan sebagaimana bilik yang selalu dipergunakan.“
Raden Rangga dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Merekapun kemudian telah duduk kembali di pendapa sam¬bil menunggu tempat yang disediakan bagi mereka. Semen¬tara itu, Nyi Demanglah yang telah berada kembali di bilik Ki Demang untuk menungguinya.
Dalam pada itu, Ki Jagabayapun kemudian telah sibuk dengan para tawanannya. Para pengawal yang terdiri dari anak-anak muda telah mendapat tugas untuk membawa para tawanan itu ke banjar dan diawasi langsung oleh dua orang bebahu, pembantu Ki Jagabaya.
“Jangan sampai lepas.“ berkata Ki Jagabaya, “taruhannya adalah leher kalian.“
Demikianlah, maka disisa malam itu, Raden Rangga dan Glagah Putih telah tidur di gandok. Anak Ki Demang yang sebaya dengan Raden Rangga itu ternyata ingin pula tidur bersama mereka. Kekagumannya kepada kedua anak muda yang mengembara itu membuatnya selalu ingin dekat dengan mereka.
Memang ada banyak hal yang ditanyakan. Sesuai de¬ngan umurnya maka pertanyaan berkisar pada kemampuan kedua pengembara itu. Bagaimana mereka dapat mengalahkan seekor harimau dan mengusirnya kedalam hutan dan bagaimana mereka mampu melawan delapan orang sekaligus.
Glagah Putih yang lebih banyak mendengarkan percakapan itu tiba-tiba hampir diluar sadarnya telah memperbandingkan dua orang anak muda yang sebaya. Glagah Putih memperhatikan landasan berpikir mereka, ungkapan perasaan mereka dan perhatian mereka terhadap sasaran pengamatan mereka.
Memang jauh berbeda. Namun kadang-kadang tataran perhatian mereka bertemu, tetapi hanya pada titik silang yang kemudian berpisah lagi, sebagaimana dua buah garis yang saling berpotongan. Namun pada pembicaraan berikutnya, jarak antara keduanya menjadi semakin jauh dan bahkan keduanya sama sekali tidak mempunyai arah singgungan sama sekali. Namun dalam pada itu akhirnya mereka bertigapun sempat beristirahat dan tidur barang sejenak.
Ketika fajar menyingsing, maka mereka telah terbangun. Adalah kebiasaan Glagah Putih untuk segera pergi kesumur untuk menimba air.
“Aku mandi dahulu.“ berkata Raden Rangga, “nanti, kau ganti mandi dan aku yang mengisi jambangan.“
Glagah Putih mengangguk. Ialah yang lebih dahulu Raden Rangga mandi.
Ketika kemudian seisi rumah itu telah terbangun, maka kedua anak muda itu pergi menengok Ki Demang didalam biliknya. Ternyata bahwa sudah mulai terasa perubahan didalam dirinya. Racun yang sudah tidak bekerja lagi itu tidak lagi merambat, merusakkan jaringan-jaringan tubuh Ki Demang. Apalagi ketika Ki Demang kemudia telah mendapat sejenis obat yang dapat memulihkan kekuatannya dari seorang yang memiliki pengetahuan obat-obatan.
Namun semula orang itu tidak berani memberikan obatnya, karena sebelumnya ia pernah mengobati Ki Demang tanpa membawa hasil. Bahkan semakin lama menjadi semakin parah.
“Racun itu sudah tidak bekerja lagi.“ berkata Ki Demang, “karena itu aku berharap obatmu akan berarti bagi kesehatanku.“
Sebenarnyalah, obat yang diminumnya itu memberikan kesegaran pada tubuh Ki Demang yang masih sangat lemah. Tetapi Raden Rangga yakin, bahwa meskipun agak lambat, namun Ki Demang tentu akan dapat pulih kembali.
“Sebenarnya kami hanya ingin melihat akibat obat yang telah diberikan kepada Ki Demang“ berkata Raden Rangga, “agaknya kita sudah yakin bahwa keadaan Ki Demang akan berangsur baik. Karena itu, tugasku di Kade¬mangan ini agaknya sudah selesai.“
“Tetapi kau berjanji untuk tinggal di Kademangan ini sampai besok.“ berkata anak Ki Demang.
Raden Rangga tersenyum. Ketika ia berpaling kearah Glagah Putih maka Glagah Putih itupun berkata, “Terserah kepada Raden. Tetapi pekerjaan kita sudah selesai disini.“
“Belum.“ potong anak Ki Demang, “masih ada satu tugas yang harus kalian lakukan. Menepati janji.“
Raden Rangga tertawa. Namun kemudian iapun men¬jawab, “baiklah. Tetapi dengan satu permintaan.“
“Apa?“ bertanya anak Ki Demang.
“Siang nanti kita membuat rujak cengkir dan babal.“ jawab Raden Rangga.
“Jangan takut jawab anak itu, disini ada berpuluh batang pohon kelapa dan berpuluh batang pohon nangka.”
Dengan demikian maka Raden Rangga dan Glagah Pu¬tih telah menunda keberangkatan mereka. Sehari itu mere¬ka sempat mengamati perkembangan kesehatan Ki Demang yang nampaknya menjadi semakin baik betapa lambatnya. Setelah racun didalam tubuhnya yang bekerja perlahan-lahan telah menjadi tawar, maka obat lain yang diberikan telah mampu bekerja untuk meningkatkan kesehatannya.
Ternyata dalam waktu singkat, perubahan kecil telah mulai nampak. Tubuh Ki Demang tidak lagi merasa nyeri di semua sendi-sendinya. Tanda-tanda perbaikan mulai nampak, sehingga Nyi Demang yang dalam saat-saat terakhir selalu dicengkam oleh kecemasan mulai berpengharapan, bahwa suaminya akan dapat sembuh lagi meskipun tidak dengan serta merta.
Karena itu, maka kedua anak muda yang telah menolong anaknya dan kemudian memberi obat kepada Ki Demang itu, baginya adalah tamu-tamu yang sangat terhormat.
Dalam pada itu, Ki Jagabaya sibuk mengawasi adik Ki Demang yang sedang ditahan. Tidak seorangpun yang menduga, bahwa adik Ki Demang itu telah sampai hati mengorbankan kakak kandungnya untuk mendapatkan kedudukan tertinggi di Kademangan Sempulur.
Yang masih belum diberi tahu tentang rencana adik Ki Demang itu adalah ibu kandung Ki Demang sendiri. Ki Demang memang berpesan, agar ibunya yang sudah tua jangan mendengarnya. Tetapi ternyata bahwa karena setiap orang di Ka¬demangan Sempulur telah membicarakannya, maka akhirnya ibu Ki Demang itupun mendengar juga meskipun tidak jelas, bahwa anaknya yang muda telah ditangkap.
Hatinya yang lemah oleh umurnya yang tua, benar-benar telah terguncang. Dipanggilnya pembantunya, seorang perempuan yang juga sudah mendekati umurnya, meskipun masih agak lebih muda.
“Apa yang telah terjadi?“ bertanya ibu Ki Demang itu, “menurut pendengaranku, Piyah telah mengatakan kepada Semi bahwa anakku yang muda telah ditangkap atas perintah anakku yang tua.“
“Demikian kata orang Nyai.“ jawab pembantunya yang juga sudah tua itu, “tetapi aku tidak tahu, apa sebabnya.“
“Betapa sakitnya hati orang tua ini Tumi. Anakku hanya dua orang. Tetapi mereka tidak dapat hidup rukun sampai dihari tuanya.“ berkata perempuan tua itu.
“Tetapi tentu ada sebabnya.“ berkata pembantunya, seorang perempuan lugu yang bernama Tumi.
Perempuan tua, ibu Ki Demang itu kemudian berkata, “tolong, bawa aku kepada anakku yang tua.“
“Ki Demang masih sakit Nyai.“ berkata pembantu¬nya itu, “tentu masih belum dapat diajak berbicara tentang hal yang rumit-rumit seperti itu. Sebaiknya Nyai menunggu sampai keadaan menjadi jelas. Kecuali jika Nyai sekedar menengok atau bahkan membesarkan hatinya.“
“Tetapi aku tidak dapat menunggu sampai pertengkaran itu menjadi-jadi. Demang itu agaknya merasa dirinya berkuasa, sehingga ia berbuat sewenang-wenang terhadap adiknya yang seharusnya dilindunginya.”
“Ada orang yang mengatakan, bahwa adik Ki Demang itulah yang bersalah.“ berkata Tumi.
“Karena itu, aku harus mendapat kejelasan.“ berkata perempuan tua itu.
Tumi menjadi ragu-ragu untuk melakukan perintah perempuan itu. Ia tahu bahwa Ki Demang sedang sakit. Tetepi perempuan tua itu telah memaksanya.
Karena itu, maka katanya, “Nyai, coba biarlah aku menghubungi Nyi Demang, apakah Ki Demang yang sakit agak parah itu dapat menerima Nyai untuk membicarakan masalah itu.”
“Aku ibunya.“ jawab perempuan itu, “sakit atau tidak sakit aku berhak untuk datang kepadanya. Kemarin aku juga menengoknya. Ia dapat menjadi Demang karena ayahnya seorang Demang. Sepeninggal ayahnya, maka ia mendapatkan kedudukan itu, karena ia adalah anakku yang tua. Tetapi jika adiknya tidak menjadi Demang maka ia tidak boleh berbuat sewenang-wenang seperti itu.“
Tumi tidak dapat berbuat lain. Karena itu, maka iapun telah mengantarkan perempuan tua itu menemui Demang Sempulur yang sedang sakit.
Rumah ibu Ki Demang itu hanya berbatasan dinding saja dengan Kademangan. Semula ia juga berada di Ka¬demangan. Tetapi ia ingin melupakan kematian suaminya, Ki Demang yang lama. Karena itu, maka ia telah memotong halaman rumah Kademangan itu dan membangun rumah sendiri untuk mendapatkan suasana yang baru.
Kedatangan ibu Ki Demang dengan niat khusus itu memang mengejutkan. Anak Ki Demang berusaha untuk menjelaskan kepada neneknya bahwa ayahnya masih sangat lemah. Katanya, “Kecuali jika nenek sekedar menengoknya.“
“Ayahmu memang maunya selalu menang.“ berkata neneknya. “Aku akan minta penjelasan kepada ayahmu, apa yang sebenarnya telah terjadi.“
“Nek.“ berkata anak Ki Demang itu, “besok atau lusa barangkali ayah sudah dapat menjelaskan kepada nenek.“
“Kau anak nakal.“ desis neneknya, “ayahmu itu ada¬lah anakku.“
Anak Ki Demang itu tidak dapat menahan neneknya, sementara itu ia tidak berani mengatakan apa yang telah terjadi dengan ayah dan pamannya, karena ayahnya memang melarang untuk mengatakan hal itu. Tetapi diluar dugaan, ternyata neneknya telah mendengar peristiwa itu, tetapi hanya sebagian.
Ketika Nyi Demang menyatakan kesediaannya untuk menjelaskan persoalannya, perempuan tua itu mendorongnya kesamping, “Aku akan berbicara dengan anakku.“
Memang tidak ada yang dapat mencegahnya, sehingga akhirnya perempuan tua itu telah berdiri disisi pembaringan Ki Demang. Untunglah bahwa keadaan Ki Demang sudah membaik meskipun baru setapak kecil, sementara racunpun telah menjadi tawar.
Ki Demang yang tidak menyadari persoalan yang dibawa oleh ibunya tersenyum menerima kedatangannya. Dengan suara lemah Ki Demang mempersilahkan, “Silahkan duduk ibu.“
Ibu Ki Demang termangu-mangu sejenak. Ketika ia sudah berdiri dihadapan anaknya yang sedang sakit, maka tumbuh perubahan didalam hatinya. Ia tidak lagi ingin menyumpah dan mengutuk anaknya yang tua. Meskipun sejak kecil anaknya yang muda yang seakan-akan lebih dekat dihatinya, namun wajah Ki Demang yang pucat, suaranya yang lemah, dapat sedikit mengendapkan perasaannya. Karena itu, maka ibunya itupun segera duduk di sebelahnya.
Sementara itu Nyi Demang berdiri dengan bayangan wajah yang sangat cemas. Diluar pintu anak Ki
Demang telah mengajak Raden Rangga dan Glagah Putih mengikuti neneknya yang marah. Namun mereka menarik nafas dalam-dalam melihat perubahan sikap ibu Ki Demang itu.
Ki Demang sendiri tidak segera bertanya sesuatu. Ia mengira ibunya seperti hari-hari yang lewat, sekedar menengoknya. Menanyakan kesehatannya, kemudian kembali kerumahnya disebelah. Namun ia memang melihat wajah ibunya agak berbeda dengan kemarin.
“Demange.“ berkata ibunya itu, “aku mempunyai se¬dikit persoalan yang ingin aku tanyakan kepadamu.“
“O“ Ki Demang mulai berdebar-debar. Ia mengira bahwa ibunya tentu sudah mendengar tentang adiknya yang ditangkap itu meskipun ia sudah berpesan agar tidak seorangpun yang memberitahukan kepadanya. Tetapi agak¬nya mulut memang sulit untuk dipagari. Namun Ki Demang masih berpura-pura tidak mengetahuinya. Karena itu maka iapun bertanya, “Apa yang ibu maksudkan?“
“Jangan berpura-pura.“ berkata ibunya, “menurut ceritera banyak orang, kau sudah menangkap adikmu sendiri.“
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi karena sebelumnya ia memang sudah menduga, maka ia tidak menjadi sangat terkejut mendengar pertanyaan itu. Bah¬kan iapun kemudian menjawab, “Aku terpaksa melakukannya ibu.“ Namun kemudian dibetulkannya, “Tentu bukan aku yang melakukannya, karena aku sedang sakit.“
“Tetapi tentu atas perintahrnu.“ berkata ibunya pula.
“Bukan ibu. Atas persoalan yang dilakukannya, maka Ki Jagabaya menganggap perlu untuk menahannya. Memang atas persetujuanku.“ jawab Ki Demang.
“Jadi, apakah kau merasa masih kurang, bahwa kaulah yang telah mewarisi pangkat, derajad dan sebagian dari peninggalan ayahmu meskipun aku, isteri ayahmu dan sekaligus ibumu masih hidup?“
“Ibu.“ berkata Ki Demang dengan nada yang berat, “aku mengerti maksud ibu. Ibu tentu menganggap bahwa aku telah berbuat sewenang-wenang terhadap adikku sendiri dan karena ibu menyinggung peninggalan ayah, seakan-akan aku ingin mendapat lebih banyak lagi dari yang aku dapatkan sekarang.“
“Aku tidak asal saja menuduhmu. Kau telah sampai hati menangkap adikmu sendiri.“ berkata ibunya selanjutnya, “tentu saja kau dapat meminjam tangan Ki Jagabaya atau para pengawal Kademangan. Kau dapat memberikan tuduhan apa saja kepada adikmu sesuka hatimu.“
Ki Demang yang sedang sakit itu menarik nafas dalam dalam. Sementara itu Nyi Demang mencoba untuk sedikit menurunkan kemarahan mertuanya, “Ibu, kakak Demang masih sangat lemah.“
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja kepada¬nya, apa maksudnya menangkap adiknya sendiri.“ jawab ibunya.
“Ibu.“ berkata Ki Demang kemudian, “sebaiknya ibu menghubungi Ki Jagabaya.“
“Jagabaya itu tentu sudah kau pesan.“ jawab ibunya, “ia adalah Jagabaya yang baik sebelumnya. Sejak ia diangkat menggantikan ayahnya oleh ayahmu dahulu, ia sudah menunjukkan kelebihannya dari ayahnya. Tetapi se¬karang ternyata ia telah dapat kau pergunakan untuk kepentinganmu pribadi, bukan kepentingan Kademangan ini.“
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam beberapa kali untuk menahan perasaannya yang bergolak.Ia menghormati ibunya sebagai mana seseorang menghormati ibunya. Na¬mun dalam keadaan sakit, ia tidak banyak kesempatan un¬tuk berbicara panjang. Dadanya yang sudah terasa lapang itu menjadi sesak pula.
Dalam pada itu, anak Ki Demang yang tidak tahan melihat keadaan ayahnya berkata, “Nenek, jika ayah berkenan, aku dapat menjelaskan persoalannya.“
“Apa tahumu.“ bentak neneknya.
Ayahnyalah yang menyahut, “Ibu, sebenarnya aku memerintahkan semua orang untuk tidak menyampaikan persoalan ini kepada ibu, agar ibu tidak terkejut karenanya. Tetapi ternyata aku telah memilih langkah yang salah. Seharusnya sejak semula aku harus lansung memberita¬hukan kepada ibu agar ibu tidak mendengar justru dari orang lain yang dapat menyesatkan.“
“Siapapun yang mengatakan kepadaku, tetapi satu kenyataan bahwa adikmu sudah kau tangkap.“ berkata ibunya.
Ketika Nyi Demang menyatakan kesediaannya untuk menjelaskan persoalannya, perempuan tua itu mendorongnya kesamping. “Aku akan berbicara dengan anakku.”
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Raden Rangga yang tidak sabarlah yang justru menjawab, “Aku yang menangkapnya nek.“
Ibu Ki Demang itu berpaling. Dipandanginya seorang anak muda yang berdiri dimuka pintu disebelah cucunya. Anak muda yang belum dikenalnya.
“Kau siapa?“ bertanya ibu Ki Demang itu.
Raden Rangga tiba-tiba saja menjadi ragu-ragu. Tetapi ia sudah terlanjur mengatakannya. Karena itu, maka jawabnya kemudian, “Aku adalah sahabat cucu nenek ini.”
“Apa hubunganmu dengan kedua anakku dalam persengketaan ini?“ bertanya ibu Ki Demang pula.
“Nek.“ berkata Raden Rangga kemudian, “bukankah cucu nenek hanya seorang?“
“Tidak.“ jawab nenek itu. “anak Demange inilah yang hanya satu.”
Raden Rangga mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia mengetahui bahwa anak adik Ki Demang yang te¬lah ditangkap itu agaknya lebih dari seorang.
Sebenarnyalah ibu Ki Demang itupun kemudian meneruskan, “Anak adik Ki Demang ini ada tiga.”
Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah terlanjur melibatkan dirinya karena ia merasa kasihan kepada Ki Demang. Karena itu maka katanya, “Baiklah Nek. Jika nenek ingin penjelasan, biarlah aku menje¬laskan, kenapa anak nenek yang muda itu telah ditangkap.”
“Siapa kau dan apa urusanmu dengan anak-anakku?“ bertanya ibu Ki Demang itu.
Ki Demang yang sakit itu dengan suara lemah menyahut, “Ibu. Sebenarnya kami tidak ingin memberitahukan persoalannya kepada ibu. Aku tahu, anak ibu yang bungsu itu terlalu manja. Jika ibu mengetahui persoalannya yang sebenarnya, maka ibu tentu akan terkejut. Ada dua kemungkinan dapat terjadi. Ibu tidak percaya, atau ibu akan menjadi sangat kecewa terhadap si bungsu itu.“
Ibunya mengerutkan keningnya. Dipandanginya anak¬nya yang masih nampak sangat lemah itu. Kemudian diedarkannya pandangan matanya kearah Nyi Demang, anak Ki Demang dan dua orang anak muda yang mengaku kawan-kawan cucunya itu.
“Apa yang telah terjadi sebenarnya?“ bertanya ibu Ki Demang itu.
Raden Rangga masih juga ragu-ragu. Namun Ki De¬mang itupun kemudian berkata kepada anaknya, “Ceriterakan kepada nenekmu. Ternyata usahaku untuk tidak memberitahukan kepada nenekmu, akibatnya justru sebaliknya. Nenekmu mendengar dari orang lain, tetapi ti¬dak lengkap sehingga timbul prasangka yang bukan-bukan.”
Anak Ki Demang itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia su¬dah remaja bahkan mendekati dewasa, sehingga karena itu, ia sudah dapat membuat pertimbangan-pertimbangan, sehingga karena itu, maka iapun setuju dengan ayahnya. Neneknya harus mendengar langsung dari orang yang berkepentingan agar tidak mendapat kesan yang salah.
“Jika nenek tidak percaya itu persoalan lain.“ ber¬kata anak Ki Demang itu didalam hatinya.
“Nek.“ berkata anak Ki Demang itu kemudian sambil mendekat. Namun hatinya menjadi berdebar-debar juga melihat kerut didahi neneknya. Sementara itu Nyi Demang menjadi tegang. Tetapi ia tidak berani mencampurinya.
Demikianlah maka anak Ki Demang itupun kemudian telah menceriterakan apa yang telah dialaminya. Sejak awal sampai akhir. Juga tentang sakit ayahnya yang semakin lams semakin parah. Perlahan-lahan namun pasti penyakit itu akan membunuh Ki Demang jika ia tidak segera men¬dapat pertolongan dari anak-anak muda itu.
Ibu Ki Demang itu mendengarkan dengan saksama. Se¬tiap kata yang diucapkan oleh cucunya itu membuat denyut jantungnya serasa menjadi semakin cepat. Ketika cucunya selesai berceritera tentang peristiwa yang dialaminya itu, maka neneknya menyahut, namun kata-katanya tidak lagi mantap, sehingga terdengar ragu-ragu, “Kau berbohong.“
“Tidak nek.“ jawab cucunya, “kedua orang kawanku ini menjadi saksi. Merekalah yang menolongku dari terkaman harimau itu dan merekalah yang telah mencegah paman membunuhku.“
“Kau katakan bahwa orang yang akan membunuhmu bersama pamanmu itu berjumlah delapan orang. Sudah tentu delapan orang dewasa seperti pamanmu.“ bertanya neneknya.
“Ya nek, memang delapan orang.“ jawab cucunya.
“Jadi bagaimana? Delapan orang itu dapat dikalahkan oleh dua orang kawan-kawanmu yang masih ingusan itu?“ bertanya neneknya.
Anak Ki Demang itu berpaling kearah Raden Rangga dan Glagah Putih. Memang sulit dipercaya bahwa kedua orang anak muda itu mampu mengalahkan pamannya dengan tujuh orang kawannya. Tetapi itu memang sudah terjadi.
Karena itu, maka anak itupun berkata, “Itulah kelebihan kedua orang kawanku ini. Sebenarnyalah mereka mampu mengalahkan paman bersama tujuh orang kawan¬nya. Jika nenek tidak percaya, marilah kita ajak kedua orang anak muda itu menemui paman. Jika paman ingkar, biarlah paman dan tujuh orang itu diadu dihalaman disaksikan oleh nenek. Tetapi jika kemudian terjadi kematian, maka neneklah yang bertanggung jawab.“
“Kenapa aku?“ bertanya neneknya, “jika keduanya memang pernah memenangkan perkelahian melawan delapan orang itu, kenapa mereka akan mati?“
“Bukan kawan-kawanku itu yang akan mati. Tetupi lawan mereka. Termasuk paman.“ berkata anak Ki Demang itu.
Ibu Ki Demang itu mulai ragu-ragu. Namun kemudian Ki Demang itu berkata, “Ibu, jika ibu tidak percaya, silahkan ibu menemui anak ibu yang bungsu. Ajak kedua anak muda itu, agar ia tidak dapat berbohong.“
Perempuan tua itu agaknya ragu-ragu. Agaknya ia benar-benar ingin membuktikan. Karena itu, maka katanya, “Bawa aku kepada si Bungsu. Aku ingin membuktikan apakah kalian tidak membohongi aku dengan fitnah yang kotor.“
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun berdesis. Untunglah bahwa kedua anak muda itu masih tinggal disini untuk sehari ini, sehingga dengan demikian maka mereka akan dapat membantu menjernihkan dugaan ibuku terdahapku.“
Demikianlah maka anak Ki Demang itupun kemudian telah mengantar neneknya ketempat pamannya ditahan bersama Raden Rangga dan Glagah Putih. Tanpa kedua anak muda itu, maka adik Ki Demang itu akan dapat ingkar. Dan ibunya tentu lebih percaya kepada anaknya yang muda daripada Ki Demang, meskipun Ki Demang dalam keadaan yang sangat lemah karena sakit.
Sepeninggal anaknya, maka Nyi Demangpun telah berjongkok disisi suaminya berbaring sambil menangis. Dadanya benar-benar dicengkam oleh kategangan yang sangat. Ia mengenal sifat dan watak mertuanya yang keras. Agaknya disaat mertua laki-lakinya masih hidup, maka kedudukannya sebagai Nyi Demang telah menempanya. Namun demikian ia sendiri agaknya tidak akan menjadi sekeras mertua perempuannya itu.
“Sudahlah Nyai.“ berkata Ki Demang, “segalanya akan selesai dengan baik. Memang kita beruntung sekali karena kehadiran kedua orang anak muda itu. Kecuali mereka telah menyelamatkan anak kita, memberikan obat kepadaku dan sekarang mereka akan membantu menjernihkan kekalutan didalam keluarga kita.“
Nyi Demang itu mengangguk kecil sambil mengusap matanya.
Demikianlah maka ibu Ki Demang itu telah diantar oleh cucunya menemui anaknya yang bungsu. Raden Rangga dari Glagah Putih dengan sengaja tidak ikut mereka masuk ke dalam biliknya. Katanya, “Kami menunggu diluar. Jika perlu saja, panggil aku.“
“Tetapi penjelasanmu sangat diperlukan.“ berkata anak Ki Demang.
“Biarlah nenekmu yakin akan sifat-sifat anaknya yang bungsu itu jika ia melihat sendiri kecurangannya.“ berkata Raden Rangga.
Anak Ki Demang itu tidak tahu maksud Raden Rang¬ga. Namun iapun kemudian mengikuti neneknya memasuki sebuah bilik untuk menemui anaknya yang bungsu, sementara Raden Rangga dan Glagah Putih berada diluar pintu.
Sebenarnya perempuan itu memang lebih dekat dengan anaknya yang bungsu daripada dengan Ki Demang. Namun demikian, ternyata bahwa pertanyaanpun diberikan dengan nada keras kepada anaknya yang bungsu itu, “He, kenapa kau berada disini?“
“Aku tidak tahu.“ jawab adik Ki Demang itu, “aku tidak mengira bahwa kakang Demang akan menangkap aku.“
“Menurut kakangmu, kaulah yang bersalah. Anak inilah yang telah menceriterakannya kepadaku.“ berkata ibu Ki Demang itu.
“O, ceritera apa saja yang sudah dikatakannya?“ bertanya adik Ki Demang itu.
Ibunya mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau telah berusaha membunuhnya dan sekaligus membunuh anaknya ini.“
“O“ adik Ki Demang mengangguk-angguk, “jadi itukah tuduhannya sehingga aku telah ditahan disini?“
“Jadi, kau melakukannya atau tidak?“ desak ibunya.
“Aku belum gila, ibu.“ jawab adik Ki Demang itu, “selama ini aku telah berusaha dengan susah payah merawat dan mengusahakan pengobatan baginya. Agaknya kakang Demang telah berkhayal, seolah-olah aku telah berusaha membunuhnya dan membunuh anaknya. Hal itu tentu terjadi karena kecemasan Ki Demang sendiri. Ia sendiri menderita sakit, sementara itu anaknya hanya seorang dan agaknya belum dewasa penuh. Kakang Demang takut se¬kali kehilangan kedudukannya, sehingga bayangan itu telah tergurat diangan-angannya. Atau kakang Demang memang dengan sengaja ingin menghancurkan keluargaku.“
“Jadi kau tidak melakukannya?“ bertanya ibunya.
“Tidak.“ jawab adik Ki Demang, “sudah aku kata, aku belum gila. Kakang Demanglah yang sudah gila. Kare¬na itu, maka bayangan kegilaannya didalam sakitnya itulah yang telah mengejarnya. Aku adalah korban dari kejaran bayangan kegilaannya itu.“
“Tetapi anak inilah yang mengatakannya kepadaku, bahwa kau telah berusaha untuk membunuhnya dan mem¬bunuh ayahnya.“ berkata ibu Ki Demang itu.
Adik Ki Demang itu mengerutkan keningnya. Kemu¬dian dengan tajamnya dipandanginya kemenakannya sam¬bil berkata, “Jadi kau yang selama ini sangat aku manjakan itu juga telah membantu ayahmu memfitnah aku?“
“Paman. Aku mengatakan yang sebenarnya terjadi atas diriku dan ayahku sebagaimana paman katakan sendiri dipinggir hutan itu.“ jawab anak Ki Demang.
“Aku tidak mengira, bahwa kau telah ikut dengan ayahmu dalam usahanya menyingkirkan aku. Sebenarnya apa salahku sehingga kakang Demang sangat membenciku.“ berkata adik Ki Demang.
“Nah.“ berkata ibu Ki Demang, “aku memang sudah mengira bahwa kakangmu telah menjadi gila didalam sakit¬nya. Untunglah aku telah mendengar berita tentang hal ini, sehingga aku dapat mengusutnya. Dengan demikian maka aku harus segera bertindak agar kegilaan ini segera dihentikan.“
“Tidak nek.“ anak Ki Demang itu hampir berteriak, “paman telah melakukannya.“
“Tenanglah anak manis.“ berkata pamannya. “Ibu sebaiknya bawa aku bertemu dengan kakang Demang. Siapakah diantara kami yang dapat memberikan penjelasan yang meyakinkan kepada ibu. Dengan demikian akan diketahui siapakah diantara kita yang bersalah.“
“Aku sependapat.“ berkata ibunya, “aku akan memerintahkan para pengawal untuk membawamu kepada Demange.“
“Nek“ minta cucunya, “dengarkan aku. Paman sa¬ngat berbahaya.“
“Kau tidak tahu apa-apa. Kau masih terlalu muda untuk ikut berbicara dalam hal ini.“
Namun tiba-tiba ibu Ki Demang itu bertanya, “dimana kedua kawan-kawanmu yang ikut dalam komplotan fitnah ini?“
“Ia ada diiuar.“ jawab anak Ki Demang. Namun bersamaan dengan itu, maka pintupun telah terbuka. Dua orang anak muda telah melangkah memasuki bilik itu.
“Selamat bertemu kembali Ki Sanak.“ desis Raden Rangga.
Tiba-tiba saja wajah adik Ki Demang itu menjadi pucat. Dipandanginya Raden Rangga dan Glagah Putih itu dengan tanpa berkedip.
“Mereka juga pemfitnah. Mereka berdua.“ suara adik Ki Demang itu menjadi gagap.
“Ternyata kau tidak lupa kepada kami, Ki Sanak.“ suara Raden Rangga bernada berat.
Adik Ki Demang itu memandang kedua anak mudu itu dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Namun kemu¬dian hampir berteriak ia berkata, “Pergi kau anak-anak gila.“
Ibu Ki Demang itu termangu-mangu sejenak. Namun Raden Rangga yang tersenyum itu melangkah mendekat. Katanya, “Tenanglah. Kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami hanya ingin menjelaskan persoalan yang telah terjadi agar ibumu mendapat gambaran yang benar dari peristiwa yang sebenarnya.”
Wajah adik Ki Demang itu menjadi semakin pucat. Sementara itu ibunya bertanya dengan ragu, “Kau kenal kedua anak muda itu?”
“Mereka adalah anak-anak jahat yang ikut berusaha untuk membunuhku.“ berkata adik Ki Demang itu.
“Tenanglah.“ berkata Raden Rangga kemudian, “kenapa kau akan dibunuh? Tidak ada orang yang akan membunuhmu. Ki Demang hanya menangkapmu. Jika Ki Demang ingin membunuhmu, maka kau tentu sudah mati dipinggir hutan itu? Nah, apakah aku harus membuktikan, bahwa aku mampu melakukannya seandainya aku memang ingin membunuhmu?“
Tubuh adik Ki Demang itu menjadi gemetar. Semen¬tara ibu Ki Demang yang melihat sikap anak muda itu tiba-tiba berteriak, “Keluar kau. Jika kau tidak mau keluar, aku perintahkan para pengawal menangkapmu.“
“Menurut tuduhan adik Ki Demang ini, kami berdua tidak hanya cukup diperintahkan untuk keluar denga ancaman akan ditangkap. Tetapi jika benar tuduhan adik Ki Demang ini, kami memang harus ditangkap. Tetapi tidak ada orang yang dapat menangkap kami di Kademangan ini. Sementara itu Ki Jagabaya berpihak kepada Ki Demang. Bahkan semua bebahu Kademangan ini, karena mereka mengetahui kenyataan yang terjadi.“ berkata Raden Rangga.
“Anak gila.“ geram ibu Ki Demang itu, “kau berani menentang aku? Aku adalah isteri Ki Demang yang dahulu. Sedangkan anakku sekarang menjadi demang disini.“
“Tetapi Nyai justru berusaha untuk menyudutkan Ki Demang yang sedang sakit itu.“ berkata Raden Rangga, “maaf Nyai. Aku tidak akan menyakiti hati seorang perem¬puan tua. Tetapi aku ingin Nyai juga dapat melihat kenya¬taan. Namun yang lebih jahat dari segala-galanya yang telah dilakukan oleh anak Nyai yang bungsu itu adalah bahwa ia sampai hati menyesatkan pandangan ibunya un¬tuk membunuh kakak dan kemenakannya.“
Ibu Ki Demang itu menjadi sangat tegang. Namun ter¬nyata bahwa kata-kata Raden Rangga itu memang menyentuh hati adik Ki Demang. Ketika ia melihat ibunya menjadi sangat bingung dan bahkan bagaikan kehilangan keseimbangan nalar, tiba-tiba saja si Bungsu yang manja itu terbuka hatinya.
Dengan lemahnya adik Ki Demang itupun kemudian berjongkok dihadapan ibunya sambil berkata, “Ampun ibu. Aku memang bersalah.“
Ibunya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil mengusap kepala anaknya yang bungsu itu ia ber¬tanya dengan suara sendat, “Jadi benar apa yang dikatakan oleh kemanakanmu itu bahwa kau memang berusaha untuk menyingkirkan kakakmu dan sekaligus membunuh anak itu?“
Adik Ki Demang itu tidak dapat menahan gejolak perasaannya. Perasaannya bersalah tiba-tiba telah mendera hatinya, sehingga orang yang bertubuh tegap kekar itu tiba-tiba telah menangis sambil memeluk kaki ibunya. “Ia benar ibu. Aku memang telah merencanakannya. Untunglah bahwa aku tidak berhasil melakukan rencana itu, sehingga tanganku masih belum dikotori dengan darah saudaraku sendiri.”
Perempuan tua itu termangu-mangu sejenak. Dengan nada datar ia bergumam, “Ya Tuhan. Aku serahkan sega¬lanya ditanganmu.“
Perempuan itu sekali lagi mengusap kepala anaknya yang bungsu sambil berkata, “Aku harus minta maaf kepada kakangmu. Aku sudah menyangkanya melakukan kesalahan. Aku mengira hatinya dibakar oleh kedengkian.”
“Aku mohon ampun ibu. Jangan jatuhkan kutuk atasku. Biarlah aku menjalani hukuman apapun yang akan dijatuhkan oleh kakang Demang.“ tangis adik Ki Demang itu.
Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Ketabahan se¬orang ibu membayang dimatanya yang tidak basah, betapapun jantungnya berdegup. Ketabahan seorang isteri Demang yang ditempa oleh keadaan sejak masa mudanya. Sejanak ia berdiri mematung. Namun kemudian kata¬nya kepada cucunya, “Bawa aku kepada ayahmu.“
Anak Ki Demang itupun kemudian menggandengnya, namun terasa ditangan anak muda itu, neneknya gemetar.
“Sudahlah.“ berkata perempuan tua itu kepada anak¬nya yang bungsu. Lalu, “Hadapi persoalanmu sebagaimana seorang laki-laki. Kau adalah anak Demang Sempulur almarhum. Jangan menjadi cengeng.“
Adik Ki Demang itu berusaha untuk mengatur perasaannya. Sambil mengangguk ia berkata terbata-bata, “Aku akan berusaha ibu.“
“Berdirilah dengan tegak. Tatap mataku yang tidak basah.“ berkata perempuan itu.
Adik Ki Demang itu mengangguk.
Demikianlah maka perempuan tua itupun kemudian berjalan meninggalkan tempat itu dibimbing oleh cucunya, kembali ke Kademangan. Sementara Raden Rangga dan Glagah Putih mengikutinya beberapa langkah dibelakang mereka.
Meskipun perempuan tua itu mengerti apa yang telah terjadi, tetapi ia masih tetap tidak mengacuhkan kedua anak muda yang mengaku kawan dari cucunya itu. Raden Rangga dan Glagah Putih merasakan juga sikap ibu Ki Demang itu terhadap mereka. Namun keduanya agaknya tidak merasa tersinggung karenanya.
Dengan demikian maka Raden Rangga dan Glagah Putih itu sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu karena sikap ibu Ki Demang itu. Mereka mengerti, kekecewaan yang sangat telah membuat ibu Ki Demang itu kehilangan pengamatan atas sikapnya sendiri. Mereka tidak sempat mengenali kedua anak muda itu dengan cermat bahkan keduanyalah yang telah ikut membantu menentukan kegagalan rencana anaknya yang bungsu untuk melakukan pembunuhan.
“Pada saatnya ia akan menyadari kekeliruannya.“ berkata Raden Rangga.
“Tetapi perempuan itu sangat tabah.“ berkata Glagah Putih.
“Ia memang tidak menangis.“ sahut Raden Rangga, “tetapi aku yakin bahwa hatinya hancur sebagaimana hati seorang ibu yang melihat anaknya yang hanya dua itu bertengkar. Bahkan dengan sungguh-sungguh.“
“Tidak bertengkar.“ jawab Glagah Putih, “tetapi kejahatan yang dilakukan oleh sepihak.“
Raden Rangga mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Itu adalah sebabnya. Tetapi kemudian mereka bertengkar juga, karena Ki Demang kemudian setuju menahan adiknya.“
Glagah Putih tersenyum. Sambil mengangguk ia ber¬kata, “Raden benar.“
Raden Ranggapun kemudian tersenyum juga. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Demikianlah, ketika ibu Ki Demang itu sampai kebilik Ki Demang yang sedang sakit, dua orang perempuan sedang menungguinya. Isterinya dan isteri orang bebahu Kademangan. Ketika mereka melihat ibu Ki Demang itu datang, maka isteri bebahu yang ikut menunggui Ki Demang itupun segera keluar.
Nyi Demang telah menjadi gemetar. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Sementara itu Ki Demang masih sangat lemah dan tidak dapat berbuat banyak. Namun Nyi Demang masih juga bersyukur bahwa keadaan Ki Demang sudah berangsur baik.
Ibu Ki Demang itu ketika memasuki bilik itu, matanya masih tetap kering. Ia menatap Nyi Demang dan Ki Demang berganti-ganti. Kemudian perlahan-lahan perem¬puan tua itu mendekati pembaringan Ki Demang.
Sejenak perempuan tua itu termangu-mangu, sementa¬ra cucunya berdiri tegak dibelakangnya, sedangkan Raden Rangga dan Glagah Putih masih juga berada dipintu.
Perempuan tua itu tiba-tiba saja telah meraba tangan Ki Demang. Perlahan-lahan ia berdesis, “Maafkan aku Demange. Kau tidak bersalah. Ternyata aku salah menilai sikapmu selama ini.“
Ki Demang masih akan menjawab. Tetapi tidak sempat, karena perempuan tua itu tiba-tiba terhuyung-huyung. Untunglah cucunya cepat menangkapnya. Demikian pula Nyi Demang.
“Ibu.“ desis Ki Demang yang hampir saja meloncat bangkit.
Tetapi Raden Rangga cepat pula mencegahnya. “Jangan bangkit.“ berkata Raden Rangga, “Ki Demang masih dalam keadaan sakit.“
Ki Demang menjadi terengah-engah. Sementara itu Glagah Putih telah, membantu menahan ibu Ki Demang yang ternyata menjadi pingsan. Tubuh yang berkeriput karena umurnya itupun ke¬mudian telah diangkat dan dibawa ke bilik sebelah. Beberapa orang kemudian menjadi sibuk. Berbagai usaha telah dilakukan oleh Nyi Demang, sehingga akhirnya perlahan-lahan perempuan tua itu telah membuka matanya.
“Aku berada dimana?“ suaranya sangat lemah.
“Di Kademangan ibu“ jawab Nyi Demang.
Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba mengumpulkan ingatannya, sehingga akhirnya ia menyadari seluruhnya apa yang telah terjadi. Ternyata usahanya untuk menahan gejolak hatinya se¬hingga matanya tidak menitikkan air mata, telah berakibat sangat berat bagi perasaannya. Pada saat tekanan itu sam¬pai kepuncak, maka ia telah menjadi pingsan.
“Nyai.“ berkata Glagah Putih yang datang pula kebilik itu, “Nyai sebaiknya membesarkan hati Nyai. Beruntunglah bahwa segala sesuatunya belum terjadi. Anak Nyai kedua-duanya masih selamat. Cucu Nyai itupun kini masih ada disamping Nyai. Karena itu anggap saja semuanya sebagai satu rnimpi yang buruk didalam tidur Nyai. Setelah Nyai bangun, maka tidak ada apapun yang telah terjadi.“
Perempun tua itu memandangi wajah Glagah Putih se¬jenak. Namun akhirnya iapun berkata dengan suara lunak, “Terima kasi